Puasa dan Pembentukan Kepribadian

Opini | Senin, 27 Maret 2023 | 10:52 WIB
Prof Dr H Thohir Luth MA, Wakil Ketua Umum MUI Jatim (Sumber: Dok. Istimewa )

KompasTV Jawa Timur - Bulan suci Ramadhan pasti datang setiap tahun, tetapi tidak semua orang beriman bisa mendapatkannya. Momentum yang paling berharga ini tentunya menjadi lebih dan sangat memberi makna jika kita yang masih diberi kesempatan hidup ini bisa mengisinya seluruh amal-am sholih, baik yang wajib maupun sunnah dalam memanfaatkan kesempatan yang berharga ini.

Itulah panggilan Allah untuk berpuasa sebagaimana dalam firman-Nya QS Al-Baqarah: 183 dengan tujuan membentuk manusia beriman yang Muttaqin.

Pribadi mukmin yang Muttaqin dalam kehidupan pribadi, beragama maupun berbangsa mempunyai fungsi yang sangat signifikan, yaitu iku serta mewujudkan Baldatun Thayyibatun Warabbun Ghafur untuk kesemestaan hidup. Karena pada kepribadian ini kita tidak saja berbuat baik untuk diri dan keluarga, tetapi juga membagi kebaikan terhadap sesama.

Dengan demikian setiap pribadi baik secara pribadi maupun secara kolektif merasakan ada kedamaian, kesejahteraan dan kasih sayang diantara sesama tanpa membedakan agama dan suku bangsa.

Inilah kebaikan global yang tercipta dalam ibadah shaum yang juga berujung mengantarkan kita pada misi Islam sebagai Rahmatan lil ‘Alamin. Sungguh mulia misi ini dalam kehidupan kita sebagai khalifah di muka bumi ini.

Dengan demikian kekayaan sprliritual yang terimplementasi lewat ibadah ramadhan ini akan menghasilkan kebahagiaan kita di dunia ini dan sudah tentu untuk hari akhir kelak. Oleh karena panggilan Ramdhan dari Allah untuk seorang mukmin adalah panggilan Cinta dan Sayang Allah kita sebagai orang-orang beriman.

Sebagai mukmin tentunya menyambut panggilan ini dengan Rasa Cinta dan Sayang untuk merebut keridhaan-Nya secara istiqamah melalui gerakan amal shalih di dalamnya.

1
2

TERBARU