Kompas TV kolom opini

Puasa Ramadhan dan Ukhuwah Islamiyah

Minggu, 26 Maret 2023 | 11:31 WIB
puasa-ramadhan-dan-ukhuwah-islamiyah
Drs. H. Moh. Ersyad, M.HI, Ketua Komisi Ukhuwah Islamiyah MUI Jatim (Sumber: Dok. Istimewa )

Ukhuwah Islamiyah akan menjadi sebuah ikatan di kalangan umat Islam, sehingga umat Islam menjadi kuat. Demikian pula hal tersebut merupakan modal untuk melakukan pergaulan sosial sesama umat Islam. Dengan modal ini, maka perbedaan yang tidak prinsip antarumat Islam tidak perlu menjadi perpecahan. Prinsip ukhuwah menjadikan hubungan antarsesama umat Islam menjadi harmonis dan mampu menjadi kekuatan besar untuk bersama membumikan nilai Islam. Ukhuwah islamiyah menjadi ikatan tidak saja secara emosional, namun juga secara sprititual.

Semangat untuk mengingatkan kembali pentingnya menjaga ukhuwah ismaliyah semakin menemukan momentumnya di tengah zaman yang sudah didominasi oleh sikap radikal dan agresif meski itu dalam bidang agama dan keyakinan. Peristiwa saling menyerang dan merugikan dalam internal agama meski berbeda paham sudah sangat sering dijumpai di negeri ini, negeri yang katanya paling religius dan memiliki norma paling halus di antara negeri lain. Hanya karena berbeda penafsiran dari ayat Al Qur’an dan hadits, tak jarang suatu kelompok menjelek-jelekkan kelompok lain, bahkan sampai keluar kata “kafir dan sesat”. Tidak hanya sampai itu, kebencian terhadap kelompok lain yang sejatinya masih seagama itu juga disebarkan ke kalangan awam. Terlebih lagi kebencian terhadap kalangan agama lain, yang sering kali disertai argumentasi yang berasal dari fantasi sendiri sehingga menjadi bumbu penyedap yang pada akhirnya virus kebencian tersebut menyebar.

Dengan penduduk 90 persen beragama Islam, sudah selayaknya disikapi dengan bijak, terlebih lagi Islam adalah agama yang tidak sekadar membuat pengikutnya selamat di akhirat, tetapi juga di dunia. Islam berasal dari kata “salimu” yang artinya selamat, bahkan Nabi Muhammad SAW mempertegas orang tidak dikatakan beragama Islam jika orang yang berada di sekitarnya belum selamat dari mulut, tangan, dan sikapnya. Pemaknaan ini yang juga mempertegas bahwa Islam adalah rahmat untuk seluruh alam.

Dengan demikiam, ukhuwah islamiyah seharusnya menjadi spirit baru dalam kehidupan beragama, sehingga agama menjadi sebuah institusi yang menyejukkan, bukan institusi yang menebar virus kebencian. Di satu sisi, keteguhan dalam memegang prinsip dan tafsir yang diyakini adalah penting, tetapi di sisi lain, keteguhan tersebut tidak menjadi kebenaran ketika disertai dengan sikap memaksa, mengafirkan, menyesatkan, dan menyebarkan kebencian. Pada taraf inilah, ukhuwah atau persaudaraan dengan orang Islam tidak menjadi ukhuwah islamiyah, ketika disertai dengan sikap saling merugikan dan mendhalimi. Tetapi, ketika persaudaraan dengan orang lain meskipun berbeda keyakinan, pada saat itu juga persaudaraan itu menjadi ukhuwah islamiyah.

Implementasi dari ukhuwah islamiyah ini memang harus benar-benar ditegakkan. Ditegakkan bukan sekadar simbol dan semboyan. Tetapi juga harus berusaha diinternalisasikan kepada seluruh orang Islam. Seringkali kali kita masih menemui kondisi yang tidak mencerminkan ukhuwah islamiyah meskipun sesama orang Islam sendiri. Padahal, seluruh pimpinan ormas Islam di Indonesia mencontohkan kerukunan dan persaudaraan yang tinggi, misalkan antara para pengurus di Nahdlatyul Ulama dan Muhammadiyah. Pada taraf ini, persaudaraan sudah terjalin dengan baik. Namun, satu hal yang tertinggal, bahwa internalisasi nilai ukhuwah islamiyah tersebut juga harus sampai pada tingkat akar rumput, misalkan tingkat desa. Hal yang seringkali terjadi adalah pada tingkat atas sudah dapat mengimplementasikan ukhuwah islamiyah dengan baik sedangkan pada tingka akar rumput belum mampu melaksanakannya. Kondisi ini harus menjadi perhatian khusus. Selain itu, bagaimana ukhuwah islamiyah ini bisa terimplementasikan dengan baik tidak hanya ketika bertemu dengan orang yang berlainan pemahaman, tetapi juga ketika tidak bertemu sekalipun. Pada konteks eksternal, ukhuwah Islamiyah inter keyakinan dan agama ini juga masih harus ditingkatkan demi kemaslahatan.

Ukhuwah islamiyah akan merepresentasikan bahwa agama adalah institusi yang menyelamatkan dan menyejukkan. Pada akhirnya kerukunan dan persaudaraan pada agama Islam pada khususnya dan Indonesia pada umumnya akan menjadi kuat dan kokoh. Dengan ukhuwah, umat akan terberdayakan. Dengan ukhuwah, umat akan mencapai kemaslahatan.

Dalam sebuah kesempatan, Nabi Muhammad SAW mengingatkan: “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam sikap saling mencintai, mengasihi dan menyayangi, seumpama tubuh, jika satu anggota tubuh sakit maka anggota tubuh yang lain akan susah tidur atau merasakan demam.” (HR Muslim). Orang mukmin bagaikan satu tubuh utuh yang kalau sakit salah satu organnya, yang lain pun merasa sakit. Kaki terluka akan menyebabkan tubuh meriang dan kepala pusing. Bila saudara menderita kesulitan, maka yang lainnya juga merasakannya. Itulah makna persaudaraan yang sesungguhnya. Islam mendorong umatnya untuk menerjemahkan ikatan tali persaudaraan dalam kehidupan sehari-hari. Bagaikan sebuah kesatuan yang utuh dan tak terpisahkan. Suka-duka dilalui bersama. Ringan sama dijinjing, berat sama dipikul. Sikap saling memiliki merupakan sikap persaudaraan sejati.

Betapa indahnya, Islam menuntun manusia dalam merajut tali persaudaraan. Untuk menerapkannya, tentu tak mudah seperti membalikkan telapak tangan. Biar pun rambut sama hitamnya, tetapi rasa persaudaraan memang berlainan. Bowlby dengan attachment theory-nya menjelaskan bahwa kelekatan persaudaraan yang kuat akan memberikan sumbangan dalam kesuksesan perkembangan sosial dan penyesuaian diri yang sehat. Sebaliknya, konflik persaudaraan mendatangkan kerugian yang tak terelakkan. Hubungan persaudaraan mengahruskan adanya kehangatan (warmth) yang ditandai dengan kedekatan, kasih sayang, kekaguman, dukungan moril-materil, penerimaan dan pengetahuan akan pentingnya persaudaraan. Sebaliknya, konflik yang terjadi, biasanya ditandai dengan adanya pertengkaran, kompetisi, dominasi, serta persaingan dalam memperoleh sesuatu yang diinginkan. 

Sungguh ajaran Islam telah menanamkan benih persaudaraan yang dapat menghasilkan manfaat yang dahsyat, baik duniawi maupun ukhrawi. Keimanan seseorang diukur dengan pembuktian sejauh mana seorang mukmin bisa mencintai saudaranya. Hal ini dipertegas Rasulullah SAW: Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (dengan iman sempurna) sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. (HR al-Bukhari dan Muslim).

Editor : Luky Nur Efendi




BERITA LAINNYA


Close Ads x